kain-tenun-gedog-asal-tuban_resize

Tenun Gedog Asal Tuban

Nama tenun Gedog, salah satu wastra Indonesia ini mungkin belum terdengar familiar di telinga Anda. Namanya yang unik berasal dari bunyi ‘dog…dog..dog..’ yang dihasilkan dari alat tenun saat proses menenun sedang berlangsung.

Kota Tuban yang berada di provinsi Jawa Timur menjadi rumah bagi tenun gedog. Nurul, salah seorang pengrajin tenun Gedog, mengatakan terdapat banyak keistimewaan dari kain tradisional ini, yang dimulai dari proses panen pohon kapas.

“Kami memprosesnya dari awal sekali. Yakni, dengan memanen pohon kapas terlebih dahulu. Setelah itu, lanjut memintal kapas menjadi benang, dicelupkan ke kanji agar kaku, lalu mulai proses tenun, baru dicelup warna. Untuk motif, dibuat melalui proses membatik,” kata Nurul saat ditemui VIVAlife di pameran Crafina yang bertempat di JCC, Jakarta Selatan, Jumat, 28 November 2014.

Tekstur kain yang terbilang lebih kaku dibanding tenun Indonesia lainnya, memang menjadi ciri khas tersendiri. Menurut sejarah di kota Tuban, lanjut Nurul, tenun gedog dipakai untuk menggendong kayu dari ladang, untuk taplak meja, dan kegiatan sehari-hari lain, sehingga teksturnya lebih kaku dan tebal.

Namun, untuk memenuhi kebutuhan pasar, bentuk kerajinan tenun gedog kini sudah bervariasi. Mulai dari kain tenun gedog, kain tenun motif non-gedog, kain batik non-gedog, sampai kain seser. Kain tenun gedog merupakan kain hasil proses tenun menggunakan alat tenun gedog. Sedangkan kain batik gedog terbuat dari bahan kain non-tenun yang berhiaskan motif gedog.

Sedangkan untuk soal motif, gedog memiliki beberapa motif khas, seperti burung lokcan, panji konang, panji serong, ganggeng, kembang randu, kembang waluh, cuken, melati selangsang, satriyan, kijing miring, likasan kothong hingga guntingan.

“Kain tenun gedog itu cirinya dapat terlihat pada bagian benang yang tidak sama besar, tipis ataupun tebalnya, karena kami memintalnya sendiri. Jadi ada yang tebal sekali, ada yang tipis. Semua dibuat manual dengan tangan. Waktu pengerjaannya bisa sampai satu bulan untuk satu kain,” kata Nurul.

Warna-warna kain tenun gedog juga didominasi dengan warna-warna alam, seperti cokelat, biru, hijau hingga krem. Hal ini diakui Nurul, karena kain tenun gedog juga memakai pewarna alami, dari daun-daunan dan kayu. Untuk warna biru misalnya, pengrajin memakai daun indigo, daun mangga untuk warna hijau, dan warna coklat dari kayu secang.

Untuk selendang gedog berukuran 2 meter, produsen tenun gedog bernama “Tenun Gedog Zaenal” ini menjualnya dengan harga Rp400-500 ribu. Sedangkan kainnya, dijual dengan harga Rp1,5-2 juta.

“Kalau kain batik non-gedog, murah, hanya Rp150-300 ribu karena dia bahannya bukan gedog, hanya motifnya saja yang gedog. Tapi kalau kain dan motifnya asli gedog, itu yang mahal,” tambah Nurul.(vivanews.com)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*