Bonggol Pisang

Meraup Rupiah Dari Gurihnya Bonggol Pisang

Bagi penggemar cemilan, mungkin keripik dari pisang sudah sangat umum ditemui. Namun pernahkah anda menikmati keripik dari bonggol batang pohon pisang?

Mungkin aneh kedengarannya jika bonggol batang pohon pisang dijadikan keripik. Apalagi, seringkali bagian tanaman yang tumbuh dipekarangan itu tidak dimanfaatkan dan dibuang begitu saja. Belum lagi, bentuk dan baunya yang aneh membuat banyak orang enggan mengolahnya.

Namun jangan salah, di tangan ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) Karanglo Makmur, Desa Sukoharjo, Ngaglik, bonggol pisang yang hanya dipandang sebelah mata itu disulap menjadi cemilan yang memiliki nilai ekonomi. Bahkan, tak tanggung-tangung, penggemar keripik ini sudah sampai di Pulau Kalimantan.

Ketua KWT Karanglo Makmur, Inah Hadi Purnomo mengatakan awal mul dari pembuatan keripik unik ini lantaran ketidaksengajaan.

Awalnya, penggunaan bahan keripik dari bonggol pisang lantaran pada awal 2014 omzet dari keripik singkong dan pisang yang diproduksi kelompoknya mengalami penurunan drastis.

Dalam perjalanannya, kripik singkong tersebut terus mengalami penurunan dalam hal jumlah pembeli setelah memproduksi selama enam bulan. Sehingga berpengaruh kepada pendapatan. Keadaan ini tidak membuat anggota kelompok putus asa. Sejak itu, ia mulai berinovasi membuat keripik dengan bahan-bahan lain.

“Awalnya hanya uji coba saja, jika bagian lain (dari tanaman pisang) dimanfaatkan untuk makanan, kenapa tidak mencoba bonggolnya,” kata dia kepada wartawan akhir pekan lalu.

Menurutnya, pengunaan bahan ini sempat diragukan oleh anggota kelompok yang lain. Terlebih, bonggol pisang belum pernah dimanfaatkan sebagai bahan makanan sebelumnya.

“Banyak yang ragu dan takut rasanya akan terasa pahit, apalagi getahnya sangat banyak. Namun setelah dicoba, ternyata banyak anggota yang suka dengan rasanya yang lebih gurih dari keripik tempe,” ungkapnya sembari mengiris bonggol pisang yang sudah dibersihkan.

Inah mengungkapkan, kunci dari pengolahan bonggol pisang menjadi keripik ada pada pemilihan bahan bakunya. Jenis bonggol yang digunakan sebagai bahan baku kripik bonggol pisang yaitu jenis bonggol pisang kepok dan klutuk.

Selain bonggol pisang jenis kepok dan klutuk tersebut, menurut Inah juga bisa dibuat kripik. Meskipun rasa yang dihasilkan berbeda dengan dua jenis bonggol pisang tersebut.

“Kalau klutuk dan kepok seratnya lebih lembut dan warnanya lebih putih. Selain itu, getahnya juga tidak sebanyak bonggol pisang jenis lainnya, sehingga pengolahannya tidak terlalu membutuhkan banyak bumbu,” ujarnya.

Selain karena jarang yang menggunakan sebagai keripik, kata Inah, pemilihan bahan tersebut juga dilatarbelakangi dengan banyaknya bonggol pisang yang dibuang begitu saja setelah buahnya dipanen.

Dari kemauannya untuk terus berinovasi itulah ia berhasil merubah mainset masyarakat terhadap bonggol pisang yang seringkali berakhir menjadi sampah, berubah menjadi cemilan bernilai ekonomi.

“Untuk keripik bonggol pisang memang belum banyak yang minat, omzetnya baru sekitar Rp 900 ribu per bulan. Tapi rata-rata pembelinya dari perantau di Kalimantan yang membawa keripik ini sebagai oleh-oleh,” kata dia menjelaskan. (jogja.tribunnews.com)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*