Memberi Uang kepada Gepeng di Jogja Akan dikenai Sanksi

Peraturan Daerah (Perda) DIY Nomor 1 Tahun 2014 tentang Penanganan Gelandangan dan Pengemis (Gepeng) akan diterapkan mulai 1 Januari 2015. Ketentuan pidana yang ada dalam peraturan itupun siap dijalankan.

“Siap tidak siap, aturan ini akan dijalankan,” tegas Kepala Dinas Sosial (Dinsos) DIY Drs Untung Sukaryadi MM saat dihubungi KRjogja.com, Sabtu (27/12/2014).

Menurut Untung, proses panjang telah dilalui sebelum Perda ini diberlakukan, yakni tahap perencanaan, rapat dengar pendapat (hearing) dan sosialisasi yang dilakukan sejak setahun lalu. Namun ia tidak menafikan bahwa di awal penerapan Perda tersebut masih akan membutuhkan perbaikan-perbaikan.

Karena itu, ia mengajak semua pihak, terutama masyarakat untuk mendukung penegakan Perda Gepeng, dengan tidak memberikan uang receh kepada gepeng. Sebab, pemberi uang kepada gepeng terancam pidana 10 hari dan denda Rp 1 juta. “Penerapan Perda ini memang perlu komitmen semua pihak, agar bisa berjalan dengan baik,” tandas Untung Sukaryadi.

Dalam Perda ini dikatakan bahwa pengemis adalah orang-orang yang mendapatkan penghasilan dengan meminta-minta di muka umum, dengan berbagai cara dan alasan untuk mengharapkan belas kasihan dari orang lain. “Dengan demikian pengamen yang meminta uang di jalan dengan cara memainkan alat musik juga termasuk dalam aktivitas pengemisan,” jelasnya.

Menurutnya, tujuan Perda ini dibuat untuk menciptakan DIY sebagai daerah tujuan wisata bebas dari gepeng. Dengan demikian, para pengunjung akan nyaman menikmati suasana Kota Yogyakarta yang bersih dari gepeng.

Dalam implementasinya, Dinsos akan berkolaborasi dengan banyak pihak (lintas sektor) misalnya kepolisian, Satpol PP dan Dinas Ketertiban. Tim khusus juga telah disiapkan untuk mengeksekusi aturan tersebut di lapangan.

“Bagi yang kedapatan melakukan pergelandangan dan pengemisan maupun yang memberi uang kepada gepeng akan dikenai sanksi. Sementara bagi yang belum tahu Perda ini akan dilakukan pembinaan,” katanya.

Dikatakan, Dinas Sosial DIY juga telah menyiapkan sistem pembinaan dan rehabilitasi bagi gepeng yang terjaring saat penertiban. Mereka akan dimasukkan camp assessment untuk diketahui motivasi, latar belakang keluarga, pendidikan maupun umur mereka.

Gepeng yang berusia produktif, lanjut Drs Untung, akan diberi bekal keterampilan melalui lembaga-lembaga keterampilan yang dimiliki pemerintah. Bagi yang masih di bawah umur, akan dimasukkan Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA). Sedangkan bagi gepeng berusia lanjut, akan dimasukkan panti-panti wredha (jompo). Khusus bagi gepeng yang berasal dari luar daerah, akan dikembalikan ke daerah asalnya. (krjogja.com)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*