Kampung Code

Kampung Code

Kampung Code dahulu merupakan pemukiman liar yang kumuh. Banyak masyarakat yang ingin beradu nasib di Kota Jogja dan tidak memiliki tempat tinggal kemudian memanfaatkan tempat tersebut sebagai rumah. Dengan bangunan seadanya yang belum tentu layak dan sebagian besar terbuat dari triplek bahkan kardus mereka berusaha untuk menyesuaikan diri dan beradaptasi. Pada musim hujan sering terjadi banjir dan menghanyutkan rumah-rumah sederhana kawasan ini. Pemerintah pernah berencana merelokasi penduduk daerah tersebut setelah terjadinya banjir tetapi masyarakat daerah tersebut menolak pada tahun 1984.

Kondisi masyarakat miskin Kota Yogyakarta dapat tergambarkan pada Kampung Code. Penduduk pada masa itu terdiri dari pemulung, pengamen, pengemis, dan lain lain. Hal-hal tersebut berubah menjadi lebih baik dan sehat semenjak kedatangan seorang arsitek Romo Mangun (Y.B. Mangunwijaya). Pada mulanya pasca terjadinya banjir Romo Mangun datang sebagai tindakan kemanusiaan, tetapi nalurinya terpicu untuk menata ulang kampung ini menjadi lebih baik dan sehat karena kedekatan beliau dengan masyarakat sekitar. Beliau menata ulang permukiman seperti menambahkan WC umum, ruang terbuka untuk bermain, dan balai serbaguna yang dapat berfungsi sebagai perpustakaan, tempat belajar atau pertemuan warga sehingga fasilitas umum terpenuhi.

Tidak hanya itu beliau juga dapat mengubah mental masyarakat di kampung ini sehingga mereka dapat bekerja dengan status yang lebih baik misalnya berdagang, penjaga parkir, maupun karyawan toko. Romo Mangun melakukan bimbingan kepada warga dalam mengelola pendapatan ekonomi keluarga bersama dengan Yayasan Pondok Rakyat, hingga daerah tersebut terlepas dari penggusuran. Usaha masyarakat bersama Romo Mangun menata Kampung Code mendapat hasil berupa penghargaan internasional yaitu Aga Khan for Architecture pada tahun 1992.

Kampung Code memiliki aset kampung berupa rumah-rumah peninggalan Romo Mangun dan ada konvensi tak tertulis di dalamnya. rumah-rumah ini tidak boleh diklaim oleh siapapun. Warga Code yang benar-benar belum memiliki rumah atau bagi gelandangan yang boleh menempati rumah tersebut dengan biaya sangat murah. Jika keadaan ekonomi warga tersebut telah membaik, atau anggota keluarga telah meninggal dunia atau menikah atau keluar dari kampung, maka rumah tersebut harus dikembalikan kepada kampung dan dapat digunakan kembali oleh warganya yang benar-benar membutuhkan.

Ketua RW 01 Code yang menjabat pada tahun 2009, Pak Bahran, mengutip pesan dari Romo Mangun, “ Kalau sudah lebih mapan secara ekonomi, beli lagi saja tanah di luar kampung. Nanti rumah di kampung ini bisa ditempati oleh warga lain yang lebih membutuhkan.” Sesama warga pun selalu menganjurkan kepada warga lain yang keadaan ekonominya telah membaik untuk tidak mengembangkan rumah. Karakteristik kampung Code harus tetap dipertahankan jika ingin merenovasi. Contohnya, gedeg yang dicat warna-warni atau struktur sederhana bambu dan kayu. Kali Code terlihat sangat bersih dan indah dengan rumah-rumah yang tertata dengan rapi dengan coraknya yang warna-warni.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*