Papan Tulis

Diberhentikannya Kurikulum 2013, Orangtua Murid Sambut Gembira

Orangtua murid menyambut gembira dihentikannya Kurikulum 2013 oleh Kementerian Kebudayaan dan Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemenbuddikdasmen). Mereka mengapresiasi langkah Menbuddikdasmen Anies Baswedan.

Dian Warastuti, orangtua siswa SMP Muhammadiyah 22 Pamulang, menyebut keputusan itu tindakan yang bagus dan bijaksana. Sebab, kentara sekali masih banyak sekolah yang belum siap melaksanakan, terutama guru masih harus dilatih dan dibiasakan terlebih dulu.

Dian juga menyebutkan, seperti halnya guru dan siswa, orangtua juga perlu disosialisasikan kurikulum melalui sekolah-sekolah masing-masing.

“Penerapan kurikulum baru seperti apa, sebab banyak konten yang pengajarannya melibatkan orangtua di rumah,” kata Dian kepada Warta Kota, Sabtu (6/12/2014).

Dian mengatakan, dirinya mengapresiasi langkah yang diambil pemerintah pusat. Baginya, sebagai orangtua, setiap pembelajaran di sekolah dengan cara dan metode yang baru, perlu adanya sosialisasi agar orangtua tidak bingung.

Hal senada dikatakan Yuli, orangtua siswa kelas 2 SD Ragunan 04 Petang. Yuli merasa bingung mengajari anaknya di rumah.

“Bingung karena belajar zaman dulu enggak sama dengan sekarang, sekarang sudah enggak ada lagi pelajaran, semuanya di satu buku, anaknya nggak tahu bisa atau enggak,” kata Yuli.

Yuli mengatakan, lebih baik kembali ke kurikulum lama atau kurikulum 2006. Menurut Yuli, anak-anak dan orangtua lebih terbiasa menggunakan kurikulum tersebut dibanding dengan kurikulum 2013 yang begitu banyak materi.

“Saya senang sih kalau (kurikulum 2013) dihentikan. Saya juga bisa mengajari anak per mata pelajaran kalau sekarang bingung ngajarinnya,” kata Yuli.

Tidak hanya itu, Prasetyo, orangtua siswa kelas 1 SD di Jakarta Selatan selama ini merasa kasihan pada putranya lantaran tidak bisa menangkap materi pelajaran dengan baik.

“Anak saya itu sebenarnya daya tangkapnya lama, kalau semuanya dipukul rata materi banyak harus selesai, kasian dia,” kata Prasetyo.

Prasetyo menyebutkan, kemampuan anak satu dengan lainnya itu tidak sama, karenanya, merupakan langkah yang baik jika pemerintah memilih menghentikan kurikulum tersebut dan melakukan evaluasi. (kompas.com)

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*