Bentara Budaya 1_resize

Bentara Budaya Yogyakarta

Bentara Budaya Yogyakarta
Jalan Suroto No. 2 Kotabaru, Yogyakarta, Indonesia, 55224
telp: +62-274-560404 fax: +62-274-560404

Sejarah Bentara Budaya Yogyakarta
Bermula dari kepedulian pimpinan harian Kompas, yaitu PK Ojong dan Jakob Oetama, terhadap kebudayaaan terutama bidang seni rupa, yaitu sekitar tahun 1970-an. Kompas banyak mengkoleksi lukisan, keramik, dan benda-benda antik lainnya yang kemudian benda-benda koleksi Kompas ini dikelola oleh GM Sudarta, karikaturis Kompas. Kemudian, untuk mewadahi benda-benda koleksi ini didirikan Gramedia Art Gallery tahun 1974 di Pintu Air, Jakarta. Gallery inilah yang sebenarnya menjadi cikal bakal Bentara Budaya kemudian hari.

Tahun 1982, toko buku Gramedia di Jl. Jendral Sudirman 56 Yogyakarta pindah tempat ke sebelahnya (No. 54). Bekas toko Gramedia ini kosong, dan direncanakan akan dijadikan toko roti . Namun, setelah pimpinan Kompas melihat ada ruang kosong di Yogya maka cita-cita lama untuk membuat sebuah lembaga kebudayaan akhirnya mendapatkan tempatnya. Akhirnya, bekas toko tersebut dijadikan Bentara Budaya, sebuah lembaga kebudayaan milik kelompok Kompas Gramedia.

Pada tanggal 26 September 1982 mulailah sejarah bentara budaya bergulir. Acara pertamanya adalah pameran lukisan tradisional karya Citra Waluyo dari Solo dan Sastra Gambar dari Muntilan.

Sebagai utusan Budaya, Bentara Budaya menampung dan mewakili wahana budaya bangsa, dari berbagai kalangan, latar belakang, dan cakrawalan yang mungkin berbeda. Balai ini berupaya menampilkan bentuk dan karya cipta budaya yang mungkin pernah mentradisi ataupun bentuk-bentuk kesenian massa yang pernah populer dan merakyat Juga karya-karya baru yang seolah tidak mendapat tempat dan tak layak tampil di sebuah gedung terhormat. Sebagai titik temu antara aspirasi yang pernah ada dengan aspirasi yang sedang tumbuh, Bentara Budaya siap bekerja sama dengan siapa saja.

Bentara Budaya sepenuhnya didirikan oleh harian Kompas dan didukung dana oleh Kelompok Kompas Gramedia.

Ide Dasar Pendirian
Pada tahun 1980-an, Yogyakarta sebagai Kota Budaya yang mempunyai ratusan seniman seni rupa, ternyata hanya memiliki ruang pamer yang minim, yaitu Taman Budaya Yogyakarta dan Karta Pustaka. Meskipun ada Seni Sono tetapi sudah mulai ditinggalkan karena sudah dipakai Gedung Negara. Maka sudah sepantasnyalah Yogyakarta memiliki satu gedung pameran baru untuk menampung karya-karya senimannya. Untuk itu, berdirilah Bentara Budaya yang merupakan lembaga nonprofit.

Ternyata, sampai saat ini setelah 23 tahun mengabdi pada kota Yogyakarta dalam bidang seni budaya, masih banyak yang ingin bekerja sama dengan Bentara Budaya. Hal ini membuktikan bahwa ruang pamer di kota Yogyakarta masih sangat minim dibandingkan dengan jumlah seniman yang ada di Yogyakarta.

Sepuluh tahun terakhir ini banyak bermunculan galeri-galeri baru, tetapi tampaknya juga sudah mulai menghilang lagi. Memang tidak mudah mengelola sebuah galeri kalau tidak didukung dana yang kuat dan manajemen yang tertib.

Memang sudah seharusnya Yogyakarta memiliki sebuah galeri seni rupa yang besar setara dengan Galeri Nasional, Jakarta, di mana di sana terpajang karya-karyamasterpiece seni rupa Indonesia. Sehingga kota ini dapat berbangga diri menunjukkan karya-karya senimannya kepada turis, baik domestik maupun internasional.

Bentara Budaya Yogyakarta memiliki seorang Koordinator Pelaksana dan dipimpin oleh seorang Direktur Eksekutif yang bekedudukan di Jakarta. Selain itu ada pula Dewan Kurator. Dewan Kurator menentukan acara-acara yang berlangsung di Bentara Budaya. Untuk itu, semua proposal yang masuk dibahas dalam Rapat Dewan Kurator.

Tiket Masuk
Gratis

Peta Lokasi

 

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*